Thursday, November 22, 2012

Somebody

“ I want somebody to share
share the rest of my life
share my innermost thoughts
know my intimate details
someone who'll stand by my side
and give me support
and in return
I want somebody who care …”

Itu adalah petikan (yang cukup banyak) dari sebuah lagu dengan kenangan terbesar dalam memory saya hehehe
Ruang telinga dan magi saya pagi ini telah dipenuhi nada-nada indah dari Scala. Komposisi lagunya sangat indah. Apalagi liriknya. Saya memang tidak terlalu mengerti banyak soal musik, tapi beneran deh, lagu ini benar-benar membius saya untuk kesekian kalinya. Dan saya menikmati itu. Aliran darah yang berpacu dengan degup jantung serta memory-memory di kepala rasanya bekerja sama membuat saya ‘pergi jauh’. Dan…lagu ini benar-benar mewakili hati. Ini bukan cerita soal ke’galau’an yang lagi melanda banyak anak manusia ya hehe
Seseorang, beberapa tahun yang lalu, memperkenalkan lagu ini pada saya.
Dia bilang seperti ini, saat itu, “Ma, dengerin lagu ini deh. Pas ya, buat dinyanyikan dalam sebuah pernikahan…”
Lalu saya benar-benar pahami liriknya. Dan ya! Ini memang ‘keren’.  Bukan hanya untuk dilantunkan di dalam sebuah pernikahan, tapi memang liriknya bisa mewakili hasrat dan keinginan tiap manusia dalam hidupnya.

…I want somebody who will put their arms around me and kiss me tenderly though things like this make me sick in a case like this. I'll get away with it...”
Seseorang, di dunia ini rasanya menginginkan semua hal yang ada di lirik ini (saya bicara dengan pedenya). Tapi tetep yaaaa, Its not how much we give but how much love we put into giving, rite?

Dan setelah lagu ini berakhir dalam sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang dengan gaun-gaun cantiknya, diantara buket-buket bunga berwarna-warni, diantara senyum bahagia orang-orang, diantara sumpah yang terucapkan, mungkin saat itu akan terucapkan dalam hati saya, “Get ur pom-poms. Put on a happy face. Gather ur energy.  For someone u love. For someone who will be with u. For someone who will be ur man. Father from ur childrenand i know its u, somebody to share. Share the rest of my life..” Persis seperti lirik lagu ini.

Lalu, bagaimana jika berlanjut seperti ini?
“ I am (became) a full time mom. Consequently, I have to give up some of my desires, hobbies and even my dreams in order to dedicate the biggest portionof my time and efforts in raising my family.”
 Tentu diucapkan sungguh-sungguh dengan hati yang senang  hehehe

  Ya, begitulah suasana pagi ini di dalam kubikel biru saya. Semoga lagu ini benar2 bisa diputar suatu hari nanti, somebody for the Big day :D

[Dipersembahkan untuk teman-teman tercinta]
Song by : Scala & Kolacni Brothers - Somebody

Di Toko Buku


Kita melenggang senang.  
Tak perlu bergandeng tangan.
Mata kita membelalak hebat.
Seperti mata Sinta inginkan kijang kencana.
Lalu kamu diseberang sana. 
Diantara rak-rak buku.
Mengitari toko.
Begitulah kita. 
Dalam kencan-kencan kita.
“Sini. Lihat ini deh! Buku Bagus!”
Aku atau kamu, dengan senang teramat, tunjukkan sebuah buku.
Lalu kita saling bercerita. 
Komentari sebuah buku. 
Komentari si pengarang.
Tak lama, kamu berjalan di depanku.
Aku?
Berjalan di belakangmu, memasrahkan langkah, percayai kamu.
Dan kita berpisah kembali. 
Sudahi kencan kita hari itu.
Kembali, kita mengakrabi rindu melalui jarak. 
Begitulah kita.
Sudahi kencan di toko buku.

[Toko buku. 2012]

Wednesday, November 21, 2012

Merica.


Selalu ada sebotol merica, merica putih, merica hitam.

Semua tampak enak, jika kamu melahapnya.
Terlebih, sebotol merica selalu ada di samping makananmu.
Mericamu, mericaku, dan akhirnya, hanya kita yang mencintai merica-merica ini.
Pedas lalu hangat. Seperti kamu.


Thursday, July 7, 2011

Just writting

Hmmm
I think, sometimes, i hate Grow up!
When everybody left. Including me.

Friday, May 13, 2011

Mesin Waktu

Ketika membuka-buka album lama, saya menemukan banyak fhoto saat saya dan sepupu-sepupu dekat saya masih kecil. Masih lucu, masih imut-imut, masih tembem.. hehehe
Saya mengenang banyak cerita masa lalu, jadinya..tertawa-tertawa sendiri dan jadi merindukan masa kecil yang sudah lewat. Tapi kayaknya kami masih tetap sama deh. Kami yang dulu...yang lucu, yang imut-imut, yang selalu sibuk dengan hal-hal yang kami sukai. Hehehehehehe... #pede
Tapi, betul deh, saya yang sejak dulu sukanya menulis ya gini, masih berkutat dengan tulisan-tulisan dan termasuk skripsi Hiks (menyebut kata 'skripsi' bikin saya begidik sendiri). Lalu adik sepupu perempuan saya yang lucu, Dik Rosi, dari kecil kayaknya emang suka mencoba macam2 baju, yang berbau fashion pokoknya...dan sekarang terbukti dengan kesuksesannya, berbisnis dibidang fadhion, jadi pemilik butik yang cukup besar di Malang. Atau seperti Mas Yunus yang sukanya baca komik, baca-baca, gambar-gambar, dan sekarang sibuk dibidangnya, design interior. Atau sepupu-sepupu yang lain... yang saat ini sedang menekuni bidang kesukaannya masing-masing. Ah, jadi rindu main petak umpet, permainan yang harus selalu dimainkan ketika kami berkumpul bersama saat mudik lebaran atau liburan sekolah. Bisa balik ke masa-masa itu gak ya? Hehe Bisaaaaa menurut saya, ya itu tadi, dengan buka-buka album baru dan mengingat2 kembali masa lalu... senangnya. ^^

Monday, May 2, 2011

"Di Radiooo..aku dengar.."
Ya,terputus suaranya.


*memutar-mutar antena*
[jatinangor,2011]

Wednesday, April 20, 2011

Menari kembali

Seperti biasa, ini seperti menjadi sebuah ritual bagi saya saat bayangan sebuah drone tua menghampiri. Mengambil dua buah dupa lalu membakarnya dan menusukkannya di atas kayu tempat dupa yang saya buat .Ketika api sudah mulai membesar, kemudian saya tiup agar bara kecil yang tersisa mengeluarkan asap, menyebarkan wanginya ke seluruh ruangan kamar. Ini ritual yang sempat terlupakan. Lalu, seperti definisi ritual yang saya baca dari antropologi religi, selalu merasa ada yang kurang ketika ritual tidak dilakukan. Dan ketika nyanyian-nyanyian gendhing sudah terdengar, mulailah saya bisa menari kembali. Menggerakkan jemari dan mengayunkan selendang dengan busana genitri, menggerus malam, kembali melayang pada tahun saka.

Ah, indahnya ketika setiap gerakan dapat segera meluruhkan gulita. Menerka kembali bayangan-bayangan liar yang selalu mengajak menari di tahun saka hingga lembayung menjemput di ujung jendela. Setiap kaki terangkat pelan...pelan sekali, mengikuti gerak asap, laki-laki di bawah kumbayoni selalu muncul. Dan ketika gerakan berlanjut dengan hentakan jemari-jemari mengikuti nada, kami mulai bertemu dalam gulita.

"Kemarilah, menari bersamaku!Bara di ujung dupa masih menyala..."


Menari diantara senja