Saturday, June 12, 2010

"Tuhan, jangan matikan aku, sebelum aku selesai... "


Beberapa hari lagi aku akan melakukan sebuah perjalanan yang tidak terlupakan
Memerlukan beberapa langkah untuk sampai
Sebuah tempat indah yang belum kujamah penuh
Dengan pohon-pohon pinusnya yang berdiri kokoh, kuat tertiup angin dan hujan.
Aku ingin nikmati kembali matahari yang terbangun di timur...diantara gunung Maha Besar...
Di desa tertingginya aku akan mencoba nikmati malam bertenda
Dihangatkan unggun yang semoga tak padam hingga aku terbangun.

Ah, tidak sabar untuk menggigil diantara deru angin dan kabut
Merasakan langkah yang berat karna melawan arah angin
Merasakan kentang hangat besar yang kubakar
Dan hangatnya secangkir wedang secang manis.

Ah, aku ingin segera melangkah jauh
Menapaki setiap tanah yang ada
Mencium harum berbagai tanaman
Merasakan cuaca di berbagai tempat
Memanjakan mata dengan berbagai keindahan warna yang kutemui
Mendengarkan berbagai nada
Dan menulis kembali berbagai cerita.

"Tuhan, jangan matikan aku, sebelum aku selesai... "

Monday, June 7, 2010

" KINANTI "




“Wetni twang ning windhya ri sang siddha agastya. Mandeh mendek mari manundul suka tang rat”

Kinan mendongak ke atas seraya tersenyum pada malam. Angin pegunungan yang bertiup kencang tak menghalanginya terus menatap langit. Rambut panjangnya yang hitam terlempar ke sana ke mari, bergoyang cantik tertiup angin. Matanya yang bulat bercerita banyak pada yang dipandangnya, rembulan setengah paro. Kinan tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan. Namun, dia ingin belajar untuk mengerti. Kakinya yang terbalut kain menekuk dengan indahnya, jari-jari lentiknya menari mengikuti alunan nyanyian angin pegunungan. Sebuah darshan yang terbakar tergeletak di sampingnya, menemani Kinan dengan harumnya yang menyengat. “Aku ingat dia, Wahai Bhattaraka. Memahami mata yang ia pejamkan, sangatlah sulit. Apa artinya?” Bisik Kinan sambil terus menengadah ke atas, menatap rembulan setengah paro yang semakin tertutup awan hitam. Jari-jari lentiknya berhenti bergoyang. Kepalanya tertunduk. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya yang ayu. Rembulan telah pergi sementara awan hitam menutupi dirinya. Bintang pun belum muncul, seakan mengerti isi hati Kinan yang sedang merindu tak tahu malu. Kinan tak juga berdiri pergi meninggalkan peraduannya yang sunyi.

“Oleh karena kekaguman Windhya terhadap Agastya yang sempurna itu, gunung pun merendah dan membungkuk, tanpa mendorong langit ; dengan demikian dunia pun bergembira”. Kinan mengingatnya kembali. “Ooo… Agastya yang sempurna…bahkan gunung pun merendah dan membungkuk. “ Lanjutnya sambil terus memandang jauh. Hati Kinan kian tak tentu. Kembali terbayang pada mimpinya semalam. Dia yang datang memeluk, tak juga pergi dari ingatan Kinan.
“Kini apakah gunung akan membungkuk dan merendah untukmu, lelaki dalam mimpi? Ah, kau tak sempurna, maka tak ada satupun yang merendah dan menunduk. Pun dengan aku…”. Kinan menguatkan perasaannya. Tidak ada yang membuat laki-laki yang datang dalam mimpi itu menjadi sesosok sempurna untuk Kinan. Ingin sekali rasanya Kinan membuang jauh-jauh ingatan tentangnya. Menepis semua yang dia rasakan sekarang.

Ratusan kata yang pernah keluar dari mulutnya ingin sekali rasanya ia tangkap. Lalu memenjarakannya di sebuah sangkar agar tak lagi lepas. Namun, ingin sekali rasanya, waktu yang kini terus berlari ia tusuk dengan kujang lalu mati dan berhenti berputar. Berhenti lama, lalu berbalik menuju masa lalu. Dan dapat dibayangkan, apa yang ada di ingatan Kinan pasti akan berangsur membaik di dalam kepalanya. Dan menerobos centil masuk dalam kepala Kinan.

“Aaah, andai Bhattaraka… andai… mimpi itu benar. Andai dia merasakan hal yang sama denganku. Andai Bhattaraka… dia mengunjungiku dalam mimpi semalam… Andai kau pertemukan aku kembali dengannya, apa yang akan kutangisi lagi ? masihkan aku akan duduk di sini, memandang bulan yang pergi dengan cepat dan mengadu padaMu, wahai Bhattaraka ?” Lalu Kinan berdiri. Mematikan darshan dan bergegas pergi meninggalkan peraduannya. Harum darshan yang terbakar telah bercampur dengan bunga camboca. Bersatu dengan udara malam, melayang jauh. Mungkin menuju dudukan para resi dan Bhattaraka. Menghantarkan puji dan doa dari Kinan. Jauh dari peraduan Kinan, dimana ia biasa mengadu pada Bhattaraka, seorang lelaki dengan raga halusnya kembali mengikuti seorang perempuan ayu, memasuki mimpi seperti malam-malam sebelumnya. Tak lama, Kinan telah tertidur di bawah patung Kumbhayoni…

"Piniluta"

"Rubaya pun piniluta dera prasthi..."

Dan tertutuplah nibhananya ketika prasthi bertumpuk hebat mengalahkan paramatatwa...
Berderai hebat mengacuhkan segala nyata.
Menyerang pusak yang bertengger di atas kepala manusia sejak lahir.

Pranaja ini tak juga kunjung diam. Selalu beringsut-ingsut pergi, mendatangi malam. Merebah dalam sunyi.
Tapi malam kini tak melulu sunyi. Sudah terlalu ramai untuk becerita hebat, mengadu antara pranaja dengan sang pusak... Tak bisa disatukan. Ratri yang sunyi dulu tak didapatkan kini, maka mundurlah rubaya menuju pagi. siapa sangka pagi kini lebih sunyi dibandingkan malam, sang ratri.

Ah, Prasthi selalu merayu...Tak tahu diri didepan ratri...


Tangkil, Kinanti...

Dingin masih menggantung pada malam dengan bulan penuhnya.
Di dalam sebuah griya, seorang perempuan masih duduk melakukan jejahitan. Beberapa banten tersimpan rapi disamping canang. Griya diterangi cahaya rembulan, yang seakan ingin ikut membantu Kinanti menyelesaikan jejahitan. Tidak jauh dari griya, sebuah jineng masih ramai oleh para lelaki yang tengah sibuk memasak untuk upacara esok. Kinanti hanya bisa terus melanjutkan jejahitan, tanpa mempedulikan ramainya di luar griya. Tangannya lihai melipat janur, metanding untuk esok hari. Namun, pikirannya masih melayang jauh pada natah diujung desa. Memikirkan Tu Biang yang mengandung dan memeliharanya sejak lahir yang tengah berada jauh dari dirinya. Teringat Tu Biang yang selalu mengunyah base yang memerahkan gigi-giginya. Atau ketika Tu Biang meninabobokan dirinya sebelum suara celepuk, si burung hantu, bersuara dengan keras menakut-nakuti Kinanti kecil.

Suara celepuk malam ini mengingatkan Kinanti, bahwa malam semakin larut. Para parekan yang tengah berjaga pun beberapa sudah tertidur. Kinanti membereskan banten dan menyelesaikan jejahitan. Payas Agung yang ia gunakan disimpannya rapi di sisi dipan. Terbaringlah tubuhnya. Namun, matanya tak juga terpejam. Wajah Tu Biang kembali mengusik. "Sedang apa malam ini, Wahai engkau, Ibunda? " Bisik Kinanti. Dan bulan pun semakin tinggi. Suara celepuk semakin tak terdengar. Para lelaki di jineng pun sudah tertidur lelap, dininabobokan oleh malam.

Pagi-pagi sekali, Kinanti sudah berada di Merajan. Bersimpuh dengan asap dupa dan banten, menunggu... "Tu Biang, datanglah pada upacara ini..."

ILANA



Ilana, Ilana...
Selamat Pagi, perempuanku..

Ilana,Ilana
Terakhir aku melihatmu dengan mata telanjangku
Betapa kamu memiliki semuanya..

Ilana,Ilana
Tahukah kau,
menjadi tokoh utama dalam cerita-ceritaku?
Menjadi tokoh antagonis dalam imajinasiku?

Ilana,Ilana
Sini, kupeluk kau dengan senyum khasmu
Agar kau tau betapa aku inginkanmu..
Agar kau tau, perempuan sepertiku sangat inginkanmu..
Inginkan Ilana..

Monday, October 5, 2009

wanita

apa yang salah dengan wanita dan pria ?
apa yang salah jika wanita berkebaya dan pria memakai kumis ?

Friday, August 7, 2009

Resah, maka tak jadi kawin.

Deg, hatiku berdetak.
Repot mengurusi undangan merah, menggantung di depan lemari.
Berhari-hari untuk merajut kata.
Berhari-hari memilih warna.

Deg, hatiku berdetak
Gemetar memandang undangan merah, menggantung di depan lemari.
Berhari-hari merajut kata.
Berhari-hari menuntut makna.

Sore bergetar di ujung ranjang
mematahkan suara.
gugur sore,
sore gugur.

Undangan tak akan sampai
Sore ini gugur
gugur sore ini
tak jadi kawin, karna resah.